Barangkali kita sudah tidak asing lagi mendengar sebutan anak kembar ataupun kembar siam. Namun, tak semua orang begitu lumrah mendengar sebutan si kembar seribu yang identik dengan anak down syndrome.

Lantas, down syndrome itu apa ya? Down syndrome merupakan kelainan genetis melalui penyatuan kromosom nomor 15 dan 21 (trisomy 21) yang menyebabkan keterbelakangan fisik dan mental dengan ciri-ciri yang khas pada keadaan fisiknya, termasuk alat ucap. Tinggi badannya relatif pendek, bentuk kepala mengecil (microchephaly), hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid, mulut mengecil dan lidah menonjol keluar (macroglossia), serta beberapa kekhasan fisik lainnya.

Tak elak karena ciri-ciri fisik yang sama pada setiap penyandang down syndrome, mereka kerap mendapat julukan “Si Kembar Seribu”. Bahkan, Bandi Delphie (2009:9) menyebutkan bahwa down syndrome dapat terjadi pada segala ras dengan wajah yang sama secara internasional.

Karakteristik yang khas pada bagian fisik khususnya alat ucap—baik secara langsung maupun tidak—dapat mempengaruhi proses berbahasa anak down syndrome, terutama berbicara atau melafalkan bunyi bahasa.
Besarnya ukuran lidah, bibir tebal, rongga hidung sempit, dan posisi rahang yang tidak sempurna menyebabkan gangguan artikulatoris menjadi defisit yang paling menonjol.
Gangguan tersebut meliputi banyak hal, diantaranya adalah perubahan bunyi dan penghilangan bunyi yang akan terlihat ketika anak down syndrome melafalkan bunyi-bunyi vokal, konsonan, maupun semi-vokal.
Menurut Marsono (2006:16) bunyi disebut vokal bila terjadinya tanpa hambatan pada alat bicara, jadi tidak ada artikulasi. Sekalipun ada hambatan, itu hanya terjadi pada pita suara, sehingga mereka lebih mudah melafalkan bunyi-bunyi vokal, diantaranya [a], [i], [u], [ə], [ε], [∂], dan [o].

Lain halnya dengan konsonan. Bunyi disebut konsonan bila terjadinya dibentuk dengan menghambat arus udara pada setiap alat bicara dan disertai dengan bergetarnya pita suara. Sedangkan semi-vokal (semi-konsonan) merupakan bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.
?
Bentuk bibir yang mengecil dan lidah yang menonjol kerap membuat si kembar seribu kesulitan melafalkan bunyi-bunyi bilabial, seperti [b], [p], atau [m]. Mereka sulit merapatkan bibir atas dan bibir bawah juga menggetarkan lidah. Sehingga, bunyi homorgan [t] dan [d] seringkali berubah atau terjadi disposisi.
Padahal sebenarnya lidah memiliki peranan yang amat penting saat proses berbicara. Lidah terbagi atas lima bagian, yakni: akar lidah (root), pangkal lidah (dorsum), tengah lidah (medium), daun lidah (lamina), dan ujung lidah (apex) (Marsono, 2006:14).

Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi yang berbeda pula. Macroglossia pada anak down syndrome telah mempengaruhi fungsi kerja berbagai bagian pada lidah. Bagian pangkal lidah misalnya. Pangkal lidah bekerja sama dengan langit-langit lunak menghasilkan bunyi dorso-velar, salah satunya bunyi [ŋ] yang merupakan bunyi nasal dorso-velar.
Barangkali itulah sebabnya anak down syndrome sangat kesulitan melafalkan kata-kata ‘hidung’, ‘tangan’, ‘yang’, dan sebagainya.
Pada anak penyandang down syndrome yang terlahir dengan kerusakan organ pernapasan, berbagai kesulitan berbicara akan menambah daftar gangguan kemampuan berbahasa mereka.

Pada kenyataannya, sekalipun anak down syndrome memiliki banyak kekurangan yang menyebabkan defisit bagi kemampuan berbahasanya, mereka tetap perlu melakukan sistem komunikasi dengan orang lain.
Barangkali tidak semua anak down syndrome memiliki kesulitan yang sama dan sejajar dalam mengucapkan bunyi konsonan dan semi-vokal, namun mereka memiliki kemampuan melafalkan bunyi vokal dengan baik. Alhasil, bunyi vokal menjadi senjata utama bagi si kembar seribu untuk berkomunikasi atau mengungkapkan gagasan dan perasaannya.

Pada banyak kasus, bunyi vokal digunakan anak down syndrome untuk melafalkan suatu kata yang sulit diucapkan. Nada-nada yang tersusun dari deretan vokal menjadi menjadi hal yang diidentifikasi orang lain untuk memahami maksud yang dituturkan anak down syndrome dalam berkomunikasi. Hal ini jelas membuktikan bahwa segala keterbelakangan fisik dan mental, tidak dapat membatasi langkah mereka untuk tetap berekspresi di era komunikasi.

sumber : http://www.potads.com/article_detail.php?id=75