Alexander Faludy, baru berusia 14 tahun tapi sudah berhasil masuk ke Cambridge University, sebuah universitas kebanggaan orang Inggris. Keberhasilannya ini mungkin tidak dianggap luar biasa kalau saja ia seorang anak normal.

Alexander seorang peyandang disklesia berat, karena kemampuan menulisnya sangat terbatas dan tulisannya seperti cakar ayam. Dalam satu menit paling-paling ia hanya bisa menulis dua kata dan hanya dia sendiri yang mampu membacanya. Tapi daya ingatnya luar biasa. Ia mampu mengungkapkan di luar kepala artikel-artikel teologi atau sejarah kebudayaan serta kesenian.

Kesuksesannya ini bukan berkat talentanya yang luar biasa saja, tapi juga berkat jasa orang tuanya yang terus berjuang agar kemampuan yang menonjol tadi terus dipupuk.

Orang tuanya, Andrew Faludy dan istrinya, Tanya, keduanya guru bahasa Inggris di Hampshire, berjuang agar putranya diizinkan meninggalkan pelajaran yang kurang dikuasai seperti matematika dan science ketika usianya mencapai 11 tahun, agar ia lebih berkonsentrasi pada pelajaran yang menonjol saja.

Mereka menyadari Alexander anak “ajaib” setelah anak mereka, ketika itu berusia tiga tahun, mendengarkan cerita Thomas the Tank Engine melalui kaset. Ternyata, ia dapat mengingat kembali secara utuh kata demi kata. Demikian juga dengan cerita-cerita lain.

“Pada usia lima tahun, kemampuannya semakin menakjubkan. Sesuatu di luar kemampuan orang normal ada di kepalanya,” kata ibunya. “Mungkin otak disleksianya diisi dengan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain,” tambahnya.

Semula memang ia tersisih di sekolahnya karena kurang terampil ditambah ketidakmampuannya menulis. Namun, pada usia sembilan tahun ia menjadi orang termuda yang berhasil lulus bahasa Inggris dengan nilai rata-rata B dalam ujian akhir SMU untuk O Level.

Pada usia 11 tahun ia mengikuti ujian SMU lagi, kali ini A Level, yaitu jenis ujian tingkat SMU yang lebih tinggi ketimbang O Level, sebagai persyaratan untuk masuk universitas. Ia lulus dengan nilai B untuk pelajaran sastra, yang berisi analisis tentang Shakespeare, Milton, dan karya penyair metafisika dalam bentuk kaset rekaman. Tetapi, ketika ia sering dikucilkan teman-teman sekelasnya yang lebih besar, orang tuanya menarik dia dari sekolahnya dan mengikuti kuliah di Universitas Terbuka jurusan sastra yang bisa dipelajari di rumah.

“Kemampuan matematika saya memang di bawah normal karena saya demikian benci pada pelajaran itu. Rasanya, tidak ada gunanya untuk mempelajarinya lagi,” demikian alasan Alexander.

“Tulisan saya juga benar-benar tak terbaca tetapi apa yang masuk ke otak saya langsung dapat saya sampaikan lewat kaset rekaman. Dengan demikian saya dapat menguasai pelajaran yang tidak mampu saya lakukan di atas kertas.”

Orang tuanya berkeliling Inggris untuk mencarikan tempat yang mau menerima putranya. Akhirnya, ia diterima di Milton Abbey, sebuah asrama kecil khusus pria di Dorset. Di situ ia dibimbing oleh bapak asrama Andrew Day dan istrinya Yvette.

Dalam tiga tahun Alexander berkembang tidak hanya dalam dunia akademisnya tetapi juga pendidikan sosialnya. Pikir orang tuanya, sudah saatnya ia bisa masuk ke Universitas Cambridge.

“Sebelumnya kami pikir sebaiknya ia tumbuh dalam lingkungan yang sesuai usianya karena usia 11 tahun masih terlalu muda untuk masuk universitas,” kata Ny. Faludy.

“Kini pribadinya sudah siap untuk menghadapi perdebatan-perdebatan dalam kehidupan akademis yang tidak diperoleh dalam kuliah korespondennya.”

Martin Golding, seorang tutornya mengatakan, “Kami mengetes dia dengan teliti agar ia dapat diperjuangkan untuk masuk universitas itu karena kami yakin, ia sangat berbakat.”

Dengan tinggi 182 cm, Alexander kini tampak begitu canggung saat mengenakan stelan pantalon hijau dari bahan corduroy, dilengkapi vest dan dasi. Namun, dibandingkan saat ia masuk ke asrama di bawah asuhan Andrew dan Yvette tadi, kini ia sudah tampak lebih dewasa.

Kini Alexander menghabiskan sebagian besar waktunya di Milton Abbey dengan mendengarkan “buku audio”-nya dan mencoba mengikuti beberapa pelajaran terutama teologi dan sastra.

“Banyak orang dengan berbagai macam minat ilmu datang menemui Alexander untuk mendisukusikan apa saja: politik, sastra, sejarah, dll.,” kata Ny. Day. “Benar-benar menakjubkan melihat seorang anak berusia 14 tahun sudah mencapai tingkat intelegensi yang lebih tinggi walaupun ia penyandang disleksia.

Sumber : http://archive.kaskus.us/thread/2664861