Minggu, 04 Januari 2009 01:37:00 Wib
Kasih Tiada Bertepi
Berawal dari SMS Shahnaz Haque. Dengan penuh antusias dia menceritakan tentang Dewa dan ibunya. “Mas Andy harus tampilkan mereka di Kick Andy,” tulis Shahnaz. “Kisah mereka luar biasa dan sangat menginspirasi.”
Dari riset kecil, tim Kick Andy menemukan sejumlah ibu lain yang memiliki cerita yang tidak kalah hebatnya. Mereka ibu-ibu yang berhasil melalui masa-masa sulit saat menghadapi kenyataan bahwa anak yang mereka lahirkan tidak sama dengan anak-anak “normal” lainnya.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Poppy Soepardi manakala melihat Dewa berbeda dengan anak-anak lain. Sejak usia dini Dewa divonis mengidap celebral palsy dengan tingkat yang cukup parah. Kemampuan otaknya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Dalam usianya yang lima tahun, Dewa — yang tampil bersama Poppy di Kick Andy — tampak seperti bayi. Matanya bergerak tiada henti . Tidak pernah bisa fokus barang sejenak. Kesan pertama yang sangat terasa: Dewa asyik dengan dunianya sendiri.
Pada saat di Kick Andy, Dewa tampil bersama Habibie, yang juga sejak kecil divonis mengalami kerusakan permanen pada otak kecil. Bahkan dokter mengatakan umur Habibie tidak akan lebih dari 20 tahun. Ketika tampil di Kick Andy, usia Habibie sudah 17 tahun. Soal vonis dokter tampaknya tidak membuat Habibie dan ibunya, Endang Setyanti, patah semangat dan menyerah.
“Terima kasih Kick Andy sudah mengangkat topik tersebut. Saya jadi merasa tidak sendirian,” ujar seorang instruktur senam terkenal ketika berjumpa saya di kawasan Bintaro. Dia bercerita betapa tidak mudah menjadi ibu dari anak dengan keterbatasan seperti itu. Dia dan suaminya mengaku sudah merasakan masa-masa berat yang kadang membuat mereka nyaris putus asa. Anak tunggal mereka mengidap autis.
Sejumlah SMS dan komentar juga saya terima sesudah topik “Kasih Tiada Bertepi” itu ditayangkan. “Terima kasih Andy. Setelah melihat tayangan tersebut aku semakin menyadari betapa hebatnya mama dan papaku saat menerima anak perempuan satu-satunya yang memiliki kekurangan,” seorang teman semasa kuliah mengirimi saya SMS.
Bahkan, dalam SMS itu dia menulis: “Tidak pernah kulupakan kata-kata mama yang selalu kutanamkan dalam hati,” ujarnya, “Kamu memang mempunyai kekurangan, tapi cari kelebihanmu karena kamu tidak berbeda dengan mereka yang normal”. Dengan modal itu dia mengaku meraih mimpi-mimpinya.
Saya luruh dalam haru manakala membaca berbagai respon di situs kickandy.com. Begitu banyak orang yang setelah menonton tayangan tersebut mengaku semakin menyadari betapa dahsyatnya cinta seorang ibu. Kasih ibu sepanjang jalan, tiada bertepi, dan tanpa pamrih. Kasih yang abadi sepanjang masa.
Semua perempuan yang tampil malam itu merupakan ibu-ibu luar biasa. Poppy tidak pernah menyerah dalam mengupayakan perkembangan mental dan fisik anak semata wayangnya. “Sebagai ibu yang melahirkan Dewa, awalnya saya tidak siap. Tetapi dengan dukungan suami, kami mampu melewati masa-masa berat tersebut,” ujar Poppy. Dalam keterbatasannya, Dewa sudah mampu menulis sebuah buku berisi kumpulan sajak-sajak ciptaannya.
Begitu halnya dengan Ira Dompas, ibunda Oscar. Masa-masa sulit dilampauinya dengan tegar. Termasuk harus menelan rasa perih saat Oscar dicap gila oleh lingkungan mereka. Melalui perjuangan panjang tanpa lelah, Ira akhirnya berhasil mengantarkan Oscar untuk lebih mandiri. Bahkan dalam usianya yang menapak 28 tahun Oscar terpanggil membantu teman-temannya sesama pengidap autis. Dari tangan Oscar lahir dua buku tentang autis. Salah satunya berbahasa Inggris.
Perjuangan yang tak kenal menyerah juga yang membuat Ernim Elyas mampu mengantarkan Ferdy Ramadhan menyabet medali emas dalam Special Olympic tingkat Asia maupun medali perak di Australia. Padahal sejak lahir Ferdy mengidap down syndrome. Kita semakin menarik nafas manakala terungkap Gesa, sang kakak, selalu mendukung adiknya. “Saya tidak malu. Bahkan saya bangga,” ujar Gesa ketika saya tanya apakah dia tidak malu mempunyai adik seperti Ferdy.
Jika dengan keterbatasan fisiknya Habibie Afsyah mampu mandiri secara finasial dari berbisnis di internet, hal tersebut tidak lepas dari enerji tanpa batas yang selalu diperlihatkan sang ibu. Ibu Endang memang tidak pernah kehabisan nafas untuk membawa Habibie ke berbagai seminar. Kapan pun dan di manapun. Terutama yang berkaitan dengan bisnis internet dan seminar motivasi. Padahal untuk itu dia harus mendorong-dorong sang anak di atas kursi roda.
Memiliki anak dengan keterbatasan seperti itu memang berat. Tetapi pasti lebih berat lagi untuk tampil di depan publik, di antara jutaan penonton televisi, dan secara terbuka menceritakan kondisi sang anak tercinta. Sampai saat ini lebih banyak orangtua yang melahirkan anak dengan keterbatasan seperti itu yang memilih bersembunyi dan menyimpan rapat-rapat “aib” keluarga tersebut.
Jika Poppy, Ira, Endang, dan Ernim mau tampil di Kick Andy untuk membagi pengalaman hidup mereka, maka keputusan tersebut sungguh patut dihargai. Mereka menunjukkan kebesaran hati agar ibu-ibu lain yang mengalami hal yang sama tidak merasa sendirian dan tenggelam dalam kesedihan. Mereka bersaksi agar para orangtua yang senasib bangkit dan menatap masa datang dengan lebih tegar.
Sumber: http://kickandy.com/corner/2009/01/04/1374/21/1/5/Kasih-Tiada-Bertepi