29 January 2010, 02:15 pm
Munculnya kabar tentang hidupnya kembali anak muda bernama Salim di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengundang perhatian warga. Salim, yang wafat pada September 2008 saat berumur 18 tahun, tiba-tiba muncul di rumah kontrakan salah satu kerabatnya dan dipercaya warga bahwa dia hidup kembali.
Anak yang muncul tiba-tiba itu memang memiliki ciri fisik yang sama dengan Salim asli, anak pasangan Bunyamin (70) dan Kaswina (60). Anak itu mengalami keterbelakangan fisik dan mental atau lebih dikenal dengan istilah down syndrome (DS).
Menanggapi kasus ini, Kepala Sekolah SLB Al Gaffar Guchany, Teten Trisyatun, menyatakan, pihak keluarga mungkin saja memercayai anak tersebut sebagai Salim karena melihat ciri fisiknya yang sama.
Menurut Teten, penderita DS cenderung memiliki ciri fisik yang sama, seperti badan yang relatif pendek, wajah yang menyerupai orang mongolia, dan ciri-ciri khas lain.
“Sering disebut dengan mongoloid. Penderita down syndrome juga biasa dibilang wajah sedunia karena hampir sama di seluruh dunia,” ucap Teten di kantornya di Pondok Gede, Bekasi, kepada Kompas.com, Sabtu (29/1/2010).
Teten yang telah mendidik anak penderita down syndrome sekitar 20 tahun itu menjelaskan, ciri khas mongoloid adalah pada bagian wajah tampak hidung yang datar, mulut yang mengecil, lidah yang menonjol keluar, dan mata sipit.
Pada tubuh lain, tangan lebih pendek, serta jarak antarjari, baik pada tangan maupun kaki, melebar, dan ciri-ciri lain. “Saat ini saya mendidik lima anak down syndrome, mukanya sama semua,” ucapnya.
Meskipun anak down syndrome memiliki ciri fisik yang relatif sama, katanya, mereka tetap memiliki perbedaan fisik antara satu dan yang lain, seperti tinggi badan dan warna kulit. “Di wajah pasti ada ciri khusus yang saling membedakan antarmereka yang pasti dikenali orangtua,” kata Teten.
Ketika ditanya mengapa sikap anak yang mirip Salim itu sangat akrab dengan keluarga Salim meskipun tidak mengenal sebelumnya, ia menjawab, hal itu wajar. Penderita down syndrome, tutur Teten, cenderung memiliki sikap ramah, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
“Mereka itu cenderung periang, cepat membaur, ramah sama siapa pun, termasuk kepada orang asing. Dia akan menganggap orang yang tidak dikenalnya seperti orangtuanya sendiri jika orang itu memberi rasa aman kepadanya,” paparnya.
“Tapi, setiap anak tetap memiliki sikap yang khusus yang dapat dikenali orangtuanya,” tambah Teten.
Bagaimana dengan pengakuan orangtua Salim bahwa anak yang mirip Salim itu datang secara tiba-tiba ke rumah keluarga Bunyamin, ayah Salim? “Kalau memang benar datang sendiri, saya juga bingung. Mungkin lebih baik ke pendekatan agama. Orangtuanya kan tahu Salim sudah meninggal,” jawabnya.
“Yang jelas, kalau orangtua itu mau merawat anak tersebut seperti anaknya sendiri, itu sangat mulia. Jangan dieksploitasi, misalnya banyak orang datang ke rumahnya terus dimintai uang,” ujar Teten.
Sumber: http://koranindonesia.com/2010/01/29/kasus-salim-wajah-penderita-ds-hampir-sama/