Kejadian ini saya alami ketika KKN di daerah pegunungan di selatan Jogja di tahun 2003 lalu. Bimbingan belajar anak SD – SMP rata-rata menjadi menu wajib program KKN. Saat itu, ada salah seorang anak kelas 3 SD yang masih belum bisa membaca yang sering mengikuti kegiatan bimbingan belajar kami. Carles namanya. Menurut informasi dari teman-temannya, ia kurang cerdas. Meskipun naik kelas, ia selalu mendapat ranking terakhir. Bahkan pada saat ulangan umum, gurunya pun turut tangan membantu membacakan soal khusus untuknya.

Teman-teman KKN yang lain sudah angkat tangan dan karena itu menyerahkannya kepada saya. Saat menguji hafalannya terhadap huruf, saya sempat pusing dibuatnya. Huruf A, bisa. B, dia hanya senyum-senyum saja sampai saya beritahu. C, dia tahu (tentu saja, karena ini huruf pertama namanya). D, dia berpikir lamaaa sekali. Kembali ke B, dia sudah lupa. Padahal baru beberapa waktu yang lalu saya menunjukkan huruf B.

Saya mencoba dari dasar, yaitu pengenalan huruf: A, B, C, D, E. Metodenya? Bervariasi. Mulai dari menghubungkan titik-titik, menulis huruf sampai 10x sambil disuarakan, memasangkan gambar dengan huruf, sampai memberikan clue (“b perutnya di depan, d perutnya di belakang”). Hasilnya? Belum ada kemajuan.

Kejutan muncul ketika sambil iseng saya merangkai huruf menjadi suku kata. Ia memahami konsep mengeja huruf adalah menyambung huruf di depan dengan di belakangnya. Selanjutnya saya memberi contoh bahwa bola dapat dibagi menjadi dua suku kata b + o = bo, l + a = la. Meski ia sering lupa suku kata di depannya.

Saya: “B, O…”

Carles: “BO..”

Saya: “L, A..”

Carles: “LA..”

Saya: “Disambung jadi…”

Carles: “……..”

Saya: “BO…”

Carles: “LA..”

Dan yang mengherankan, ini dilakukan secara lisan, hanya diucapkan. Saat kembali dihadapkan pada bentuk tertulis, kelihatan sekali ia mengalami kesulitan untuk mengenali berbagai huruf yang ada di depannya.

—————————

Terlalu cepat untuk bicara bahwa kesulitan belajar yang dihadapi Carles adalah salah satu bentuk disleksia. Carles perlu menjalani beberapa tes lebih dulu untuk sampai ke kesimpulan itu. Belum lagi kategori disleksia yang cukup beragam.

Yang melintas di kepala saat itu justru faktor lingkungan lah yang menjadi penyebab. Carles tinggal dengan kakek neneknya yang buta huruf. Rumahnya pun agak terpencil, jauh dari rumah penduduk lain. Satu-satunya kesempatan yang ia punya untuk belajar membaca hanya selama 5 jam di sekolah. Itu pun masih harus berbagi perhatian dengan 23 siswa lain. Ditambah perasaan inferior yang muncul saat berhadapan dengan teman sekelasnya yang lebih lancar membaca, sangat mungkin motivasi belajarnya menjadi rendah.

Melihat tulisan di atas, saya bisa membayangkan betapa membaca adalah kegiatan yang tidak menyenangkan bagi Carles. Lihat saja huruf-huruf yang naik turun, tidak berada dalam deret yang sama. Penjelasan bahwa “b perutnya di depan” menjadi tidak berlaku karena apa yang tampak di mata kita sebagai “b” bisa menjadi “p” atau “d” di mata Carles. Susunan huruf yang dulu terbaca sebagai “papa” di lain waktu bisa menjadi “baba”.

Disleksia seringkali tidak teridentifikasi sejak awal. Penderita (aduh, gak tega sebenernya bilang penderita) disleksia seringkali dianggap anak bodoh, malas, pelupa, sulit konsentrasi. Padahal mereka hanya melihat tulisan dalam bentuk yang berbeda dengan anak normal. Dan karenanya disleksia membutuhkan metode pengajaran dan metode belajar yang berbeda. Sayang sekali kalau seorang anak diberi label bodoh padahal “kebodohan” itu di luar kuasanya.

Sumber : http://archive.kaskus.us/thread/2664861