Kehilangan anak tercinta adalah hal yang paling menakutkan bagi semua orangtua. Apalagi jika yang hilang itu adalah anak penyandang autisma. Berikut 2 ibu yang pernah kehilangan belahan jiwa mereka, penyandang autisma, hingga akhirnya bisa ditemukan kembali dalam kondisi selamat.
Gazali Solahuddin. Foto: Agus/nakita

SANDAL DI DEPAN PINTU
Agustina Yuliati, istri dari Setyo Wahyu Kartika, orangtua dari Glenz Kananda (10) dan Rafi Kananda (8)“
Glenz, anak kami yang autis, memiliki ‘kelemahan’. Ia hiperaktif dan tidak bisa membendung keinginannya sehingga sering ingin bepergian sendiri. Karena itu saya berpesan, pintu rumah boleh terbuka tapi sandal Glenz harus disembunyikan. Jika sandal Glenz di teras rumah, pintu harus terkunci rapat. Sebab Glenz tidak akan keluar jauh dari rumah tanpa sandalnya, walaupun di situ ada banyak sandal yang bisa saja dipakainya.
Pada suatu hari, saya bersama Glenz, pengasuh, dan eyangnya membeli kertas untuk keperluan aktivitas Glenz. Tapi karena eyangnya kelupaan sesuatu di rumah, jadilah Glenz ikut serta bersama eyang dan pengasuhnya balik ke rumah. Setelah mendapatkan apa yang tertinggal, saat hendak berangkat lagi, pengasuhnya kebelet pipis, maka dititipkanlah Glenz pada eyangnya. Pada waktu itu, menurut cerita si eyang, barang yang tengah dipegangnya terjatuh sehingga si eyang membungkuk sebentar untuk memungut barang tersebut. Eh, begitu bangkit, Glenz sudah tidak ada di sampingnya. Kala itu pintu rumah memang terbuka dan di luar ada sandal milik Glenz. Itulah kali pertama kami kehilangan Glenz, tepatnya pada 25 Maret 2007.
Saat itu eyang dan si pengasuh dibuat sibuk. Setelah dicari beberapa lama tidak ketemu, saya ditelepon dan dikabarkan bahwa Glenz hilang. Tentu saya syok. Meski begitu saya langsung menenangkan diri dan mengontak adik juga saudara lain untuk bisa bantu mencari Glenz.”
DARI WARAKAS KE BEKASI
“Saya juga langsung membuat selebaran tentang anak hilang yang mencantumkan foto Glenz, alamat, nama, juga nomor telepon saya. Selebaran itu langsung disebar ke lokasi-lokasi dekat rumah, masjid, pos polisi, halte, juga angkutan umum. Sejak itu banyak bermunculan informasi mengenai Glenz. Tapi setelah saya datangi, hasilnya nihil. Pada 26 Maret, saya dikenalkan dengan tim Good Morning dari Trans TV oleh teman. Saat saya dihubungi oleh awak redaksinya, mereka kaget karena yang hilang ternyata penderita autis. Saya pun diwawancarai untuk on air di acara Good Morning esok harinya.
Upaya terus saya lakukan dengan terus mencari Glenz berdasarkan informasi yang datang dari masyarakat. Akhirnya saya dikontak oleh adik di Malang. Kata ‘orang pintar’ yang dihubungi adik saya, saya harus ke daerah Warakas, Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Saat itu saya langsung melamun. Tidak terbayang jika anakku sampai ke daerah itu. Tapi apa mau dikata namanya juga usaha. Saya pun melakoninya.
Saat pencarian di Warakas saya dikontak oleh pengasuh yang menginformasikan, bahwa anak penjaga masjid di Lampiri Kalimalang, mendengar ada anak yang diketemukan dengan ciri-ciri persis Glenz di Mal Metropolitan, Bekasi. Saat itu saya telepon sopir untuk mengecek keberadaan Glenz di kantor Polisi BKPM Bekasi, karena menurut informasi anak yang ditemukan di mal tersebut langsung dibawa ke kantor Polisi BKPM.
Alhamdulillah, saya dikabarkan kalau Glenz sudah ditemukan dengan selamat. Langsung saat itu juga saya, suami dan adik ipar menuju Bekasi dari Warakas. Kurang lebih pukul 23.00 pada 26 Maret saya bisa menemukan Glenz dalam keadaan selamat. Menurut Polisi, Glenz ditemukan saat mengacak-acak pizza di mal. Untunglah Pak Polisi itu mampu mengamankan Glenz dengan baik. Menurutnya setelah diajak kenalan dan ngobrol sebentar anakku itu langsung mau ikut dengannya. Jadi sebelum rekaman saya ditayangkan di Trans TV, kami sudah bisa berkumpul kembali dengan Glenz.
Dari kejadian itu, seisi rumah mendapatkan pelajaran berharga dan menempelkan ID pada Glenz, tidak meleng saat mendampingi Glenz, dan mematuhi soal aturan tentang ‘sandal’ tadi.”
MELAJU DENGAN KERETA
Esthi Lestari, istri dari Slamet Sudarsono, orangtua dari Emil Yudha Perdana (11), dan Malva Kumala T.D (6)
“Saat Emil berusia 3 tahun, saya menyaksikan siaran salah satu stasiun televisi yang saat itu mengangkat tema autis. Nah, dari informasi tersebut saya baru mendapat jawaban mengapa Emil belum juga bisa bicara, kenapa anaknya agak aneh dan beda dengan anak lain. Saya lalu membawanya ke dokter ahli saraf anak. Namun dokter tersebut tidak mengatakan Emil sebagai penderita autis. Hanya saja, ia menganjurkan agar Emil ikut terapi, minum suplemen, dan melakukan diet makanan tertentu. Sayangnya untuk yang terakhir itu susah sekali diterapkan.
Karena kondisi Emil yang hiperaktif, tidak bisa berkomunikasi, dan impulsif, saya ‘menitipkan’ Emil pada tetangga di lingkungan rumah. Mereka membantu kami dalam mengawasinya. Walau sudah seperti itu, saya tetap kecolongan juga karena Emil sempat hilang hingga tiga kali. Hilang yang pertama sekitar satu tahun lalu tidak terlalu bikin heboh karena dia ditemukan hanya dalam kurun waktu satu jam. Hilang yang kedua, sama seperti yang pertama, dia jalan-jalan naik sepeda lalu lenyap. Karena saya cepat mencari dan dibantu oleh tetangga, Emil berhasil kembali ditemukan.”
ADA ORANG ISENG
Dari pengalaman dua kejadian itu saya semakin ketat mengawasinya. Namun, Emil merasa risih jika diikuti terus. Jadi ya saya hanya bisa mengawasinya dari jauh. Saya juga buatkan dia name tag. Sayang kalung identitas itu sering dilepas dan dihilangkannya.
Pada Sabtu 19 Januari lalu, si Mbak ke pasar, anak bungsu saya sekolah, jadi praktis hanya saya dan Emil di rumah. Berhubung saya ingin ke kamar mandi dan saat itu Emil baru saja pulang main di luar dan saya yakin Emil tidak akan ke mana-mana seperti biasa, dengan pedenya Emil saya tinggalkan sebentar ke kamar mandi.
Ternyata dugaan saya meleset karena Emil ternyata pergi keluar rumah. Setelah dicari-cari di sekitar rumah tidak ada, saya mulai ketakutan setengah mati. Jika cuma di sekitar rumah, para tetangga pasti sudah ada yang menemukan Emil. Kecurigaan saya saat itu, Emil keluar rumah lalu langsung naik angkot yang ngetem tidak berapa jauh dari rumah, dan ikut ke mana angkot itu pergi. Melihat gelagat itu, tetangga langsung peduli. Mereka ikut mencari, bahkan ada yang sampai mencari ke stasiun Bojong Gede dan menelusuri setiap rute angkot yang melintas di kompleks kami. Tapi Emil tidak kunjung ditemukan.
Saya lalu menghubungi radio Elshinta untuk meminta bantuan menginformasikan bahwa anak autis hilang. Sore harinya saya dibantu warga dan saudara menyebarkan selebaran tentang anak hilang yang berisi foto Emil, alamat, dan nomor telepon saya. Dari situ saya mendapat kabar dari teman yang melihatnya naik angkot ke Bojong Gede. Dari informasi itu saya langsung berfirasat kalau Emil naik kereta. Saya tahu sekali memori Emil kuat. Rutinitas yang dilaukan Emil setiap kali terapi adalah naik angkot lantas naik kereta. Nah, anak autis suka sekali melakukan rutinitas.
Saya, suami dan warga kompleks akhirnya membantu menyebarkan selebaran di stasiun kereta dari stasiun Bogor, Bojong Gede, Depok, Cilebut, hingga Jakarta kota. Kami mencari Emil sampai larut malam. Saat pencarian itu saya mendapat informasi dari seseorang yang membaca selebaran tersebut, katanya pernah melihat Emil di Monas hendak naik bus Trans Jakarta. Malam itu juga kami bergerak ke Monas dan mengonfirmasikan informasi tersebut ke Pos Pol Monas. Hasilnya nihil.
Pagi harinya, hari Minggu, saya bersama suami kembali menyusuri stasiun hingga Jakarta kota sambil meminta bantuan polisi di setiap stasiun. Tapi tetap tidak membuahkan hasil berarti. Sedihnya ada saja orang iseng yang memanfaatkan keadaan. Dia mengaku sudah mengamankan Emil, sudah membelikannya baju makan dan sebagainya. Tapi setelah saya tanya dari mana mendapatkan nomor telepon saya, orang tersebut menyebutkan dari Emil. Saya tahu persis kalau Emil tidak bisa melakukan itu, jangankan memberitahu nomor telepon, diajak berkomunikasi pun pasti tidak bisa.”
MASUK BUSER
“Berkat bantuan teman dari Buser SCTV akhirnya berita hilangnya Emil ditayangkan pada hari Rabu. Tapi saya dan suami tidak mengandalkan itu saja, saya terus menindaklanjuti setiap informasi yang diberikan masyarakat. Hingga 5 hari saya dan suami mengeliling Bogor, Depok, Jakarta sesuai dengan informasi yang didapat. Hingga akhirnya, saat saya berada di Sawangan, Bogor, pihak SCTV menelepon dan mengabarkan Emil sudah ditemukan di panti asuhan anak Putra Utama 6 yang terletak di Cengkareng. Malam harinya kami langsung berangkat ke tempat yang dimaksud. Wah senangnya hati ini, di sana saya menemukan Emil sedang pulas tidur. Karena tidak kuat menahan kangen, saya langsung memeluk dan membangunkannya. Untuk lebih meyakinkan semua yang ada di situ, saat itu saya memperlihatkan topi favoritnya. Melihat itu dia langsung menarik dan mengenakannya. Suasana pertemuan tersebut diliput oleh tim Buser SCTV.
Menurut cerita pengurus panti, Emil berada di situ setelah diserahkan oleh panti sosial, Kedoya, Jakarta. Jadi Emil pernah mengalami ‘garukan’ Tramtib. Karena masih anak-anak dan bukan gelandangan, akhirnya dia diserahkan ke panti asuhan anak di Cengkareng.
Dengan ditemu
kannya Emil saya berterima kasih kepada semua pihak, khususnya warga kompleks, pedagang dan pengojek yang ikut andil mencari Emil, teman-teman di milis Putra Kembara khususnya Mama Glenz (Agustina Yuliati) yang tidak bosan menelepon saya setiap hari, tim Buser SCTV, dan panti asuhan anak tempat Emil diamankan selama dua hari.”

Sumber: http://www.tabloid-nakita.com/Jendela/jendela10476.htm