Fajar (15) asyik merangkai manik-manik bulat beraneka warna menjadi sebuah ikat pinggang, Sabtu (16/1). Satu demi satu manik-manik dimasukkan ke dalam benang, membentuk untaian. Fajar begitu konsentrasi, tak peduli dengan lalu lalang orang di sekitarnya.
Ketika ditanya namanya, Fajar menjawab dengan terbata-bata, ”Fa… fa… fa… fa…” seperti bayi belajar bicara. Namun, dari postur tubuhnya yang bongsor, Fajar tampak seperti anak SMA.
Saat ditanya sedang membuat apa, ia menjawab, ”Gang… gang… gang….” Maksudnya, ikat pinggang. Fajar hanya mampu mengucapkan beberapa kata awal atau akhir dari setiap kata, tetapi diucapkan berulang.
”Wa… wa… wa…, hari… hari… hari…,” ujarnya, yang berarti pembuatan ikat pinggang dari manik-manik itu sudah dilangsungkan dua hari dan saat itu hampir rampung.
Selain ikat pinggang, Fajar juga memamerkan sejumlah hasil karyanya, yang juga terbuat dari manik-manik, seperti alas piring, tempat pensil, bros, dan pita rambut yang pembuatannya cukup rumit.
Tak jauh dari tempat Fajar duduk, ada Anneke (15) yang sedang melukis penari Bali. Sama seperti Fajar, Anneke juga tekun melukis tanpa menghiraukan kondisi di sekitarnya.
Anneke bisa menjawab pertanyaan dengan lancar meskipun dia tidak pernah melihat ke arah orang yang berbicara dengannya. Pandangannya hanya tertuju ke lukisan yang sedang dibuatnya.
”Hobi saya melukis. Saya juga hobi bernyanyi. Kalau di rumah saya senang main komputer. Sudah ya,” katanya singkat, kemudian melanjutkan lukisannya yang belum selesai.
Di samping Anneke, ada dua anak laki-laki sedang membuat batik di atas kain putih. Zat pewarna untuk membuat batik berasal dari bahan alami seperti kulit jengkol, kulit manggis, kulit rambutan, daun jati, daun mangga, dan daun mahoni. Proses membatik sama seperti membuat batik tulis tradisional, yaitu memakai canting dan zat pewarna yang dipanaskan di atas kompor kecil.
Anak-anak tersebut adalah anak autis siswa SD Bina Autis Mandiri, Palembang, Sumatera Selatan. Hari itu anak-anak berkebutuhan khusus tersebut memamerkan kerajinan tangan buatan mereka, seperti lukisan, batik, hiasan dari manik-manik, boneka dari tepung, dan boneka kertas.
Karya mereka dijual dengan harga mulai dari Rp 3.000 sampai puluhan ribu rupiah. Peminatnya cukup banyak karena kualitasnya sama bagusnya dengan produksi anak-anak normal. Dari segi pemilihan warna, karya anak-anak autis justru lebih enak dipandang mata.
Terapi
Menurut sejumlah guru SD Bina Autis Mandiri, Fajar merupakan salah satu anak autis yang menunjukkan perkembangan setelah mendapat terapi dan bimbingan. Dia sudah tujuh tahun menjadi siswa Bina Autis Mandiri.
”Dulu Fajar sering menangis dan kurang berkomunikasi. Sekarang sudah bisa duduk tenang. Dulu disuruh diam saja sulit. Sekarang sudah bisa diajak berkomunikasi,” kata Asnizar, salah seorang guru SD tersebut.
Asnizar menambahkan, Fajar baru mendapat terapi setelah umurnya enam tahun karena waktu itu di Palembang belum ada sekolah untuk anak autis.
Usia di atas tiga tahun sudah terlambat bagi anak autis untuk mendapat terapi. Idealnya, gejala autis pada anak sudah diketahui sebelum anak berusia tiga tahun.
Ketua Yayasan Bina Autis Mandiri Muniyati mengatakan, anak-anak autis sengaja diajarkan berbagai macam keterampilan supaya mereka bisa hidup mandiri dengan keterbatasannya. Pelajaran keterampilan bisa menjadi bekal bagi mereka, khususnya yang kemampuan akademisnya kurang.
”Perlu waktu dua bulan bagi anak autis untuk belajar membatik. Sedangkan untuk membuat hiasan dari manik-manik perlu waktu sampai enam bulan karena jauh lebih rumit,” papar Muniyati.
Untuk membuat hiasan dari manik-manik, lanjutnya, anak autis harus belajar mencocokkan warna dan memasukkan benang ke dalam manik-manik. ”Bagi anak autis, hal seperti itu tidak mudah dipelajari,” ucap Muniyati.
Kasus anak autis, menurut Muniyati, tidak bisa disamakan. ”Ada anak autis yang memiliki kemampuan akademis tinggi sehingga tidak berbeda dengan anak normal. Tetapi, ada juga yang kemampuan akademisnya di bawah anak normal,” ujarnya.
Selain itu, kata Muniyati lagi, ada anak autis yang punya insting untuk berkreasi sehingga guru tidak perlu membimbing. ”Tetapi, tak sedikit juga ada anak autis yang harus diajari dengan sabar karena selalu gelisah dan tidak mau diam,” katanya.
Pelajaran keterampilan pada anak autis, demikian Muniyati, juga bermanfaat pada proses penyembuhan. ”Anak autis yang sudah mendapat pelajaran keterampilan akan menjadi lebih tenang,” katanya.
Kelebihan
Anak autis pada umumnya juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan anak normal, yaitu lebih tekun dan konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu. Karena itu, mereka cocok mendapat pelajaran keterampilan.
Sayangnya, kata Prof Rusdi Ismail, dokter spesialis anak di Palembang, tidak semua anak autis bisa disembuhkan. ”Sekitar dua pertiga anak autis bisa hidup normal, tetapi sepertiganya butuh pendampingan seumur hidup,” ujarnya.
Anak-anak autis seperti Fajar dan Anneke jelas berbeda dengan anak normal. Meskipun berbeda, anak-anak itu diharapkan bisa hidup mandiri. Mereka perlu diberi asa untuk menghadapi masa depan.
Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/19/02510951/memberi.asa.kepada.anak.autis