Saya ingin sekali berbagi cerita tentang pengalaman saya mempunyai anak dengan DS di Kanada.
Ketika saya hamil anak kedua, usia saya dan suami sudah tak muda lagi. Saya sudah 40 tahun dan suami 47 tahun. Kehamilan kedua ini adalah kehamilan tak terduga. Lima tahun sebelumnya kami memang berupaya memiliki anak lagi tetapi Tuhan rupanya belum mengizinkan. Jadi, ketika saya menyadari bahwa saya hamil kembali, saya dan suami betul-betul bingung sekaligus bahagia.
Bingung karena kami tak muda lagi, bahagia karena akhirnya keinginan punya momongan terkabulkan juga.
.
Saya pun pergi ke dokter kandungan dan kebidanan untuk memeriksakan diri. Seperti juga terhadap ibu-ibu hamil lainnya, saya harus menjalani berbagai pemeriksaan standar. Di sini, setiap perempuan hamil harus diperiksa darah ketika mereka hamil 6-8 minggu serta menjalani pemeriksaan USG.
Pemeriksaan darah dan USG di trimester pertama ini tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya indikasi kelainan pada janin di kandungan.

Pada saat menjalani pemeriksaan tersebut, saya sama sekali tidak merasa khawatir akan hasilnya. Tak lama setelah menjalani pemeriksaan darah dan USG tersebut, saya tertular cacar air. Saya sungguh panik, untungnya dokter saya mengatakan bahwa meski ada resiko terhadap janinnya, cacar air di trimester pertama kehamilan umumnya tak berbahaya.Hati saya tenang kembali.
Suatu hari ketika cacar air saya belum lagi sembuh, dokter kandungan saya menelpon ke rumah. Saya sungguh kaget mendengar berita dari dokter tersebut. “Hasil test anda positif!” begitu kira-kira perkataannya. Setelah mengatakan seperti itu, dia berusaha menjelaskan bahwa hasil test positif belum tentu berarti ada kelainan pada janin karena sekitar 75% perempuan yang hasil testnya positif ternyata mengandung bayi yang sehat. Karena hasil test awal tersebut positif, saya langsung dirujuk dan dibuatkan janji ke ahli genetika untuk membicarakan lebih jauh apa yang mungkin diderita bayi saya dan pemeriksaan seperti apa yang diperlukan lebih jauh.

Setelah cacar air saya sembuh, saya dan suami pun mengunjungi dokter ahli genetika tersebut. Kami diberi berbagai penjelasan bahwa kemungkinan bayi kami adalah bayi dengan DS dan kemudian diberi penjelasan panjang lebar tentang DS (juga dibekali berbagai artikel dan bahan rujukan yang bisa kami baca lebih lanjut). Kami juga diberi penjelasan mengenai apa saja penyakit yang mungkin diderita anak dengan DS, kelemahan mereka, dan intervensi awal seperti apa (terapi) yang bisa mengurangi berbagai kendala fisik dan intelektual mereka. Dokternya pun kemudian mengusulkan kepada kami untuk menjalani test amniosintesis (tes yang dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam kandungan untuk mengambil cairan ketuban sebagai bahan untuk pemeriksaan kromosom bayi) untuk mengetahui secara pasti apakah janin di kandungan saya adalah bayi dengan DS.
Usul dokter ini tidak langsung kami terima. Saya dan suami berpikir bahwa rasanya tak perlu kami tahu sejak awal apakah bayi kami punya kelainan karena selain test semacam ini ada resikonya (meski resikonya rendah sekali, test semacam ini bisa mengakibatkan keguguran), kami akan menerima apapun keadaan bayi kami nanti.

Di minggu ke-18 saya menjalani pemeriksaan USG lagi. Hasil USG ini semakin menguatkan dugaan bayi saya adalah bayi dengan DS, hasil ini juga menduga ada masalah di jantung bayi kami. Saya sungguh bingung. Di tengah kebingungan ini, dokter kandungan saya menasehati saya panjang lebar tentang perlunya pemeriksaan amniosintesis itu agar kami (dokter beserta saya dan suami) bisa membuat perencanaan yang baik atas situasi ini. Dia kemudian juga merujuk kami ke dokter jantung anak untuk pemeriksaan echocardiogram (memantau kondisi jantung janin dan alat seperti USG).

Akhirnya, di minggu kedua Oktober 2005 saya menjalani test amniosintesis ditemani suami tercinta. Untunglah saya tak perlu bayar apa-apa karena asuransi menanggungnya (kalau tidak, test semacam ini mahal sekali). Dua hari setelah test ini, janin di kandungan ini diperiksa jantungnya. Untunglah kemudian dokter jantungnya meyakinkan saya bahwa bayi kami tidak memiliki persoalan jantung yang membahayakan. Mungkin ada persoalan, tetapi pasti tidak berat.

Selesai bertemu dokter jantung tersebut, setelah tiba di rumah, telpon pun berdering. Ternyata, telpon itu dari genetic councellor. Jantung saya berdegup tak karuan. Saya merasa sudah siap menerima kabar terburuk, tetapi tetap saja hati kecil ini berharap yang terbaik. Genetic councellor itu berbicara perlahan dan pasti …”kami sudah punya hasilnya dan bayi anda adalah bayi dengan down syndrome.” Oh… hati saya remuk redam, saya bahkan tak mampu menangis lagi ketika berbicara di telpon. Councellor itu menanyakan keadaan saya dan berharap saya berkonsultasi lagi dengannya untuk membicarakan berbagai hal selanjutnya.

Setelah mendengar kabar tersebut, saya mengurung diri di dalam kamar, diam dan tak tahu harus berbuat apa. Saya cerita ke suami, dia shock tetapi berusaha tenang. Saya menangis 2 hari, marah, bingung, dan berbagai perasaan bercampur jadi satu. Untunglah di hari ketiga saya sadar bahwa saya harus keluar dari kesedihan saya dan mempersiapkan diri menyambut bayi kami ini. Kami lalu kembali berkonsultasi ke dokter ahli genetik dan genetic councellor-nya.
Kami diberi berbagai informasi dan buku tentang DS, serta disarankan untuk menghubungi sebuah organisasi yang akan membantu kami setelah anak kami lahir.

Setelah kami tahu pasti bahwa saya mengandung bayi dengan DS, kami pun langsung memberi tahu orangtua dan saudara-saudara, juga teman-teman. Untunglah mereka semua mendukung kami. Dokter kandungan pun kemudian tahu persis bagaimana memantau kesehatan saya dan janin.

Di bulan Februari 2006 lahirlah anak kedua kami, seorang bayi laki-laki dengan DS yang sehat dan lucu. Berbagai pemeriksaan telah kami lalui, dan ternyata anak kami sehat meski ada sedikit masalah di jantungnya.
Anak kami berkembang dengan baik. Perkembangannya dan kesehatannya terus dipantau oleh dokter anak dan dan dokter jantungnya. Ia juga diperiksa telinga, pencernaan, dan beberapa hal lainnya.

Setelah kelahiran anak kami, kami banyak dibantu oleh sebuah organisasi untuk intervensi awal terhadap anak kami. Sejak anak kami berumur 1 bulan, setiap 2 minggu ada “infant development consultant” berkunjung ke rumah kami. Dia lah yang memantau perkembangan bayi kami, dia mengajarkan kami bagaimana bermain dengan anak kami untuk membantu perkembangan fisik maupun mendorong perkembangan intelektualnya.

Sekarang anak kami sudah 18 bulan, lucu dan sehat. Kakaknya juga sayang sekali padanya. Kami sering membawa dia jalan-jalan dan bertemu banyak orang. kami pun bertemu dengan orang tua-orang tua lainnya yang memiliki anak dengan DS dan kami saling berbagi pengalaman.

Pengalaman ini saya tuliskan dengan harapan kita semua bisa mengambil kegunaannya. Membaca cerita orangtua lainnya dengan anak DS, kami merasa bahwa informasi tentang DS sangat minim di Indonesia. Mungkin kita secara bersama bisa mendorong pihak rumah sakit untuk membuat semacam brosur tentang DS agar para orang tua baru dengan bayi DS tidak mengalami kebingungan luar biasa ketika diberitahu anak mereka DS.

Kita sesama orang tua sebaiknya saling mendukung demi anak-anak kita tercinta. Saya sendiri ingin sekali membantu karena akses saya terhadap berbagai informasi dan bentuk pelayanan untuk anak-anak DS sangat baik di sini. JIka ada yang perlu lebih banyak informasi, saya bisa dihubungi di damelia05@yahoo.ca. salam, farida

SUMBER : http://www.potads.com/article_detail.php?id=50