“Keluarga dengan anak sehat dan cerdas adalah dambaan setiap orang. Termasuk saya yang membayangkan dapat mengasuh anak cerdas, riang, dan sehat. Sepintas, mungkin orang melihatku memiliki tiga anak normal, sehat, dan cerdas. Namun jika mereka mengamatinya lebih lama, maka mereka akan tahu, beratnya perjuangan yang harus kuhadapi.

Kenyataan tersebut dimulai saat saya mengandung anak pertama yang disambut gembira. Namun, ujian pertama sudah harus saya hadapi karena bayi yang kemudian diberi nama Widiarti Kusumoningtyas (12) terlilit tali pusat sehingga proses melahirkannya berlangsung hingga 28 jam.

Selanjutnya, keterlambatan mulai terlihat pada si sulung yang akrab dipanggil Ajeng. Dia baru bisa berjalan di usia 16 bulan dan tidak dapat berbicara sama sekali hingga usia dua tahun. Dia juga tidak mengalami fase merangkak saat belajar berjalan.

Kelainan baru terdeteksi saat Ajeng memasuki taman kanak-kanak. Anakku didiganosis disleksia dan mengalami gangguan perilaku. Dia kesulitan saat harus belajar menghafal. Di taman kanak-kanak, jika anak lain sudah dapat menghafal butir Pancasila atau beberapa bait lagu, maka Ajeng tidak bisa menghafal sama sekali. Padahal, daya ingatnya sangat tinggi. Di usia dua tahun, dia bisa membedakan, mana mamalia dan ikan. Apa saja perbedaan keduanya. Dia juga cukup lancar membaca abjad, mulai a hingga z. Tapi saat huruf-huruf itu dirangkaikan, dia tidak dapat membacanya. Dia tahu huruf m dan a, tapi ia kesulitan membaca suku kata “ma”. Kesulitan itu berlanjut hingga Ajeng masuk sekolah dasar. Tak ayal lagi, prestasi yang diraih Ajeng di tahun pertama sangatlah buruk.

Jika membaca saja susah, apalagi menulis. Jangan ditanya bagaimana tulisan Ajeng. Ia kerap terbalik menulis huruf atau bahkan kehilangan beberapa huruf saat menulis kalimat. “Apa kabar” menjadi “ap kabr”. Ia juga sering mengamuk dan mencari perhatian. Pernah suatu hari Ajeng sengaja memutar-mutar pemukul lonceng berukuran besar dari besi. Terang saja teman-temannya menjauh dan berlari. Seakan mendapatkan perhatian dari lingkungan, ia lantas mengejar-ngejar teman-temannya tersebut.

Beruntung saya menemukan sekolah yang pas baginya selain terapi yang intensif untuk Ajeng, sehingga perilakunya mulai membaik. Proses sosialisasinya juga bagus, bahkan kemampuan akademiknya berkembang pesat. Agar proses belajarnya optimal, saya menyekolahkan Ajeng di sekolah dasar anak berkebutuhan khusus Pantara.

IQ TINGGI

Entah kebetulan atau tidak. Kekhususan juga dialami anak kedua dan ketiga. Perjalanan keduanya hampir sama dengan Ajeng. Baik Bambang Wyasa (10) dan Bambang Triartho (9) dilahirkan dengan kondisi leher terlilit tali pusat. Fase merangkak juga tidak dilalui anak-anak yang kupanggil Dimas dan Aryo ini. Dimas didiganosis mengalami gangguan konsentrasi dan perilaku. Kadang, ia menunjukkan sikap cueknya. Saat guru menerangkan, dia malah tiduran sambil membaca buku. Ditegur guru, eh, dia malah marah.

Aryo agak lain. Kemampuan bicaranya lebih baik daripada Dimas dan Ajeng. Begitu juga kemampuan sosialisasinya. Dari ketiga anak saya, Aryo memiliki IQ dengan poin tertinggi padahal dua kakaknya memiliki IQ di atas rata-rata (superior). Aryo juga tidak memiliki gangguan perilaku. Hanya saja, saya melihat ada keanehan. Meski IQ-nya di atas rata-rata bahkan terbaik di antara teman-teman sekelasnya, prestasi Aryo justru paling rendah. Guru-gurunya juga sempat heran. Psikolog atau psikiater yang saya mintai bantuan pun mengatakan, Aryo adalah anak normal. Kelemahannya, dia sulit membaca karena ternyata mengalami disleksia.

CAMBUK KOREKSI

Hidup dengan tiga anak yang memiliki gangguan perilaku jelas tidak mudah. Setiap hari, rumah kami jauh dari rapi dan bersih. Rumah bukan saja mirip kapal tumpah, tapi kapal meledak. Mereka senang membuat semrawut ruangan.

Saya juga tidak ingat, ada berapa ratusan makian atau ledekan yang sampai ke telingaku akibat perilaku mereka. Utamanya dari orang yang belum tahu kekhususan anak-anak saya. Sampai-sampai, ruangan BP dan guru di sekolah mereka menjadi kantor kedua saya saking seringnya saya dipanggil ke sana. Saya hanya bisa bersabar. Membuat hasil yang bagus membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar. Hikmahnya, dengan memiliki anak-anak seperti Ajeng, Dimas, dan Aryo, saya jadi lebih pintar soal perkembangan, pendidikan, dan gangguan perilaku anak. Sejak 1996 ketika internet belum semarak sekarang, saya sudah sering membuka situs-situs yang memuat informasi tentang disleksia.

Saya akui, hati saya memang hancur dan dada saya seakan remuk demi melihat ketiga anak yang memiliki kekhususan. Namun, saya tidak boleh larut terus dalam penolakan, saya harus berjuang agar potensi mereka dapat berkembang dengan baik.

Lantas, saya memutuskan untuk berpikir positif. Mungkin Tuhan memberikan mereka kepada saya sebagai anugerah untuk mulai melakukan koreksi. Terus terang saja, sebelum ini saya senang merendahkan orang. Misalnya saja, bawahan yang kerjanya kurang becus bisa langsung saya hardik, ’Kamu dan saya sama-sama makan nasi, tapi kenapa saya bisa kamu tidak!’

Alhasil, saya jadi belajar untuk lebih bisa bersabar. Asal tahu saja, saya termasuk tipe orang yang maunya serbacepat, serbadisiplin, serbateratur, dan serbarapi. Mungkin karena saya dididik dengan pola asuh orangtua yang besar di Eropa. Saya bisa marah jika melihat ketidakteraturan atau kesemrawutan.

Dengan hadirnya ketiga anak yang membutuhkan perlakuan khusus, saya jadi tercambuk untuk bersikap realitis dan tidak memasang target terlalu tinggi. Untuk ketiganya, saya hanya bisa berusaha keras membuat potensi mereka berkembang optimal. Syukurlah, kemampuan akademik anak-anakku cukup melesat. Ajeng selalu menjadi langganan ranking satu di SD Pantara. Bahkan, dia berhasil masuk sekolah umum, SMP St. Bellarminus. Prestasi Dimas juga dapat dibanggakan. Di sekolah dia termasuk pelajar berprestasi, tingkah lakunya juga sudah dapat diatur.

Melihat perkembangan tersebut, saya mulai optimis untuk merancang masa depan mereka. Saya tidak menuntut mereka kuliah dan mendapatkan indeks prestasi akademik tinggi. Yang saya inginkan, mereka punya keterampilan yang dapat dibanggakan. Mereka boleh menggeluti bidang apa saja, asalkan berusaha menjadi yang terbaik.

Sumber : http://www.infoterapi.com/testi.asp?sec=13