Bertahun-tahun merawat sepupu yang menderita autis membawa Ratih Anggraini menjadi guru SD Inklusif Galuh Handayani. Dia merasa senang dan nyaman bergaul dengan anak-anak tersebut.

KHAFIDLUL ULUM

DI salah satu kelas di SD Inklusif Galuh Handayani, Ratih Anggraini sedang mengajar. Di tengah pelajaran, salah seorang siswanya terus-menerus bertanya. Dia tak segera menjawab karena sedang memberikan penjelasan. Tiba-tiba siswa itu beteriak cukup keras.

Ratih mendekati siswa tersebut, lalu menjawab pertanyaannya. Siswa itu kembali tenang. Kejadian semacam ini sudah sangat biasa dihadapi para guru siswa autis, termasuk Ratih.

Kadang dia juga menghadapi kondisi yang lebih dahsyat. Misalnya, ada siswa yang buang air besar di kelas. “Ya saya harus membawa dia ke toilet untuk membersihkan kotorannya,” papar Ratih. Walau kerjanya cukup ”spesifik”, dia tak bebas dari komplain orang tua siswa.

Pernah dia dikomplain orang tua siswa karena merasa anaknya tidak bisa memahami pelajaran yang disampaikan Ratih. “Katanya terlalu berat. Padahal, saya sudah berusaha menjelaskan sesuai dengan kemampuan mereka,” katanya.

Meski begitu, anak pertama di antara dua bersaudara tersebut menikmati pekerjaannya. ”Saya terhibur dengan suasana kelas seperti itu,” katanya. Dia memang berempati kepada anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Rasa itu timbul bukan secara tiba-tiba, tapi melalui proses panjang. Ketika kuliah di Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Swadaya Gunung Djati Cirebon (1999-2003), Ratih tinggal bersama bibinya.

Tinggal di rumah orang, Ratih harus tahu diri. Dia membantu pekerjaan rumah tangga, termasuk merawat anak bibinya, Ganang Ahmad Satria, yang masih kecil. Ya memandikan, menyuapi, sampai antar jemput sekolah.

Tidak ada yang aneh pada diri Ganang. Tingkahnya seperti anak-anak lain. Namun, menginjak usia lima tahun, mulai terjadi keanehan. Ganang suka menyendiri, tidak mau bergaul dengan anak lain. Dia juga suka flapping (mengerakkan tangan berulang-ulang). Saat didiagnosis, ternyata bocah kecil itu mengidap autis.

”Saya sedih mendengar diagnosis itu. Tapi, karena sudah lama hidup bersama, saya tambah sayang kepada Ganang,” tegasnya. Sepulang kuliah dia selalu bermain dengan sepupunya tersebut, mencoba mengajarkan baca tulis. Ratih kadang kaget karena Ganang tiba-tiba marah, bahkan menjambak rambutnya. ”Kalau sudah seperti itu, saya harus menenangkan dan mengembalikan keadaan emosinya,” papar perempuan 30 tahun itu. “Awalnya agak sulit, tapi lama-lama terbiasa,” imbuhnya.

Ratih juga harus menjaga makanan yang dikonsumsi Ganang. Sebab, salah makan atau berlebihan mengakibatkan timbulnya tingkah aneh. Misalnya, jika terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung zat gula, anak itu akan merasa senang dan terus meloncat-loncat. ”Zat itu bagaikan morfin bagi anak autis,” ungkap perempuan berkerudung tersebut.

Orang tua Ganang menempuh berbagai cara untuk menolong anaknya. Secara medis maupun alternatif. Namun, usaha itu tidak berhasil. Ganang masih tetap pada kondisi semula.

Suatu ketika ibu Ganang yang dosen mendapat informasi bahwa di Surabaya ada sekolah inklusif yang bisa menampung anak autis dan dapat membimbing dengan baik. Maka, pada 2003 keluarga Ganang boyongan ke Surabaya agar Ganang bisa menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Karena sayang kepada Ganang, Ratih ikut ke Surabaya untuk menemani sepupunya yang suka menggambar itu. Kebetulan waktu itu kuliahnya sudah rampung. “Setelah diwisuda, saya langsung ke Surabaya,” ucapnya.

Di Surabaya perempuan kelahiran Jakarta tersebut kembali melakukan rutinitas seperti biasanya, mengasuh Ganang dan mengantar jemput ke sekolah. Selama satu tahun mengantar sepupunya ke sekolah, Ratih banyak kenal dengan para guru Galuh Handayani. “Pengajarnya sangat profesional, sabar saat menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus itu,” kata perempuan bertinggi badan 163 cm tersebut.

Dia juga sering sharing dengan para pengajar dan meminta masukan tentang cara membimbing anak autis. Ratih tambah tertarik untuk lebih dalam mengetahui dunia anak autis dan anak berkebutuhan khusus lainnya. Dia ingin mencoba ikut membimbing mereka.

Ratih lalu menyampaikan keinginannya menjadi guru di sekolah yang dipimpin Sri Sedyaningrum itu. Berkat pengalamannya mengasuh Ganang, Ratih diterima sebagai guru pada 2004. “Saya ingin mengetahui dunia mereka,” tandasnya.

Mengajar anak autis memerlukan cara khusus. ”Kesabarannya juga khusus. Kalau tidak sabar bisa gawat,” ungkapnya lantas tersenyum. Awal-awal sebagai guru memang agak sulit karena dia belum terbiasa menangani berbagai macam anak berkebutuhan khusus itu. Ratih harus memahami satu per satu karakter anak didiknya dan cara menanganinya. Dia juga harus tahu gejala anak yang akan kambuh.

Sumber : http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=129738